Special Report : Labuan Bajo #4 Komodo !

Perjalanan menggunakan kapal laut dari pelabuhan menuju pulau Padar memakan waktu kurang lebih 3 jam.  Setelah menikmati pemandangan spektakuler di puncak Pulau Padar, kini tiba saatnya rombongan bergerak menuju Pulau Rinca. Tulisan ini adalah lanjutan dari 3 tulisan lainnya yang menuliskan perjalanan rombongan Forum Kehumasan Provinsi Bali saat melakukan studi ke Labuan Bajo.

Waktu laut sudah menunjukkan waktu lapar dan tibalah saatnya rombongan untuk menikmati santap siang bersama di atas kapal. Coba tebak apa menu makan siangnya ? ya betul… tentu saja ikan. Tapi makan siang sepertinya terasa lebih spesial karena semua hidangannya dimasak langsung oleh kru kapal. Ada sayur capcay, udang, ikan dan ayam. Jangan tanyaken kru kapal ini lulusan sekolah memasak mana,  yang jelas rasanya luar biasa. Belum lagi ditambah sensasi pemandangan laut dan bukit, plus sisa energi yang sudah hampir habis setelah mendaki puncak Padar. Thanks God, makanannya terasa jauh lebih nikmat. Secara pribadi semua hidangannya menurut saya jauh lebih enak dibandingkan saat makan malam kemarinnya di pasar senggol ujung.  Sayangnya ada 1 menu yang absen yaitu sambel he he .. Yah maklum saja kalau NTT ini bukan Bali jadi kebiasan di Bali belum tentu merupakan kebiasaan di NTT juga kan ya.. tapi tidak mengurangi kenikmatan lah, karena ikan dan ayamnya juga sudah terasa agak pedas. Oya semangka menjadi salah satu buah yang selalu hadir di setiap perjalanan rombongan, dan rasa semangkanya ini saya akui muanis pisan dah..

Pulau Rinca adalah salah satu pulau yang diklaim oleh pemandunya sebagai habitat binatang Komodo. Komodo ini dikatakan sebagai pemakan daging dan buas sehingga setiap pengunjung harus mematuhi segala aturan yang ada. Aturan yang paling ditekankan adalah rombongan harus selalu berjalan dalam grup, artinya tidak terpencar dan terpisah-pisah. Plus, grup harus mengajak pawang agar aman. Wuiiihh mendengar penjelasan pemandunya saja sudah seperti nonton Jurassic Park, betul-betul membuat kita semakin ingin tahu.  Dan akhirnya rombongan tiba di Pulau Rinca dan seperti biasa, kapal berhenti di tengah dan seluruh anggota rombongan diangkut menggunakan sekoci kecil yang muat 8 orang.

 

Wah pembaca, pulau Rinca ini memang seperti film Jurassic Park daaah. Takut juga he he .. Begitu masuk ke pintu gerbang pertama, kita akan menyusuri sebuah jalan dari beton yang akan membawa kita ke areal utama dari kawasan ini. Sebuah pintu gerbang berisikan patung komodo 2 ekor akan menyambut kita sebelum tiba di sebuah restoran, ticketing dan bangunan lainnya sebagai pintu masuk sebelum memulai petualangan tracking untuk melihat binatang Komodo. Pawang Komodo di sini disebut sebagai Ranger. Wah keren ya namanya, ranger.

Sebelum memulai tracking, Ranger akan membriefing dulu grup pengunjung dan memberikan aturan yang perlu ditaati lagi demi kelancaran dari tracking. Ranger ini juga membawa petugas untuk membantu menjaga rombongan agar selalu aman.  Ranger dan petugas lainnya membawa sejenis tongkat dengan ujungnya ada cabangnya. Tongkat kayu ini kemungkinan akan digunakan untuk menghalau Komodo jika ada yang mendekat. Oya, komodo bisa mencium darah sampai sejauh 3km dengan lidahnya lo. Jadi bagi pengunjung yang sedang terluka atau yang sedang datang bulan, disarankan untuk tidak ikut tracking demi keselamatan.

 

Rombongan Humas yang memulai trackingnya langsung bertemu dengan dua ekor komodo. Komodo yang ditemui ini hanya diam seperti tidur. Menurut penjelasan Ranger, komodo ini punya waktu makan dari jam 6 sampai 10 pagi. Jadi setelah itu biasanya komodo hanya akan berdiam saja. Tapi Ranger mengingatkan bahwa komodo ini memang terlihat cuek bebek begitu kalau diliat or dilewati. Tapi harus tetap berhati-hati karena bisa jadi komodo ini akan langsung berlari dan menyergap nah lo .. hiiiii takuuuttt … hati-hati.  Pengunjung pulau Rinca untuk melihat keberadaan komodo ini tidak didominasi oleh turis asing, turis lokal pun juga banyak kok. Syukur deh, padahal saya pikir turis lokal sudah tidak berminat lagi berkunjung ke tempat-tempat seperti ini maklumlah jaman millenial he he.

Komodo dewasa menurut ranger bisa mencapai panjang sampai 3 meter lebih dan bisa menaiki tangga serta masuk ke bangunan-bangunan. Komodo dewasa tidak bisa memanjat pohon. Berbeda dengan anak komodo yang justru begitu lagi harus langsung memanjat pohon. Kenapa ? Yah karena biar tidak dimakan induknya (komodo itu kanibal lo) dan tidak dimangsa oleh predator seperti ular dan elang. Wah denger kata predator, elang, ular, sudah terasa seperti di dalam Geogprahic Channel deh. Tapi memang tempatnya keren banget dah, serasa di dunia lain dan jurassic world. Oya komodo menurut ranger punya cara kawin yang sedikit aneh. Jadi dalam setahun komodo itu hanya melakukan sekali kawin. Dan jika jantan ingin mengawini betina, maka para jantan harus berkelahi. Yang kalah akan lari dan yang menang akan berhak untuk kawin. Setiap betina bisa bertelur sebanyak 30 biji. Yang unik adalah telur ini disimpan pada sarang yang sebelumnya dimiliki oleh sebuah burung. Burung Gosong, sebutan burung ini dikenal sebagai burung yang setia. Kenapa setia ? karena jika salah satu pasangannya mati, maka beberapa saat lagi pasangannya akan ikut mati. Nah lo…. kalau manusia ??

Jadi ceritanya sarang burung Gosong ini akan dimanfaatkan oleh betina Komodo untuk menyimpan telurnya. Komodo betina ini akan menjaga telurnya ini dengan tidak lupa juga membuatkan lubang-lubang tambahan sebagai kamuflase pagi predator lainnya. Saking banyaknya lubangnya, sampai si induk tadi lupa sendiri dimana telurnya. (ini beneran kagak ya ? tapi begitu sih menurut rangernya).  Saat menjaga telurnya ini komodo betina bisa sangat berbahaya. Itu kenapa di areal tracking ini seringkali ada tali yang mengurung sebuah areal. Ini sebagai penanda daerah terlarang, karena bisa saja kita diserang oleh komodo betina tersebut, jadi jangan coba-coba mendekat. Komodo betina yang menjaga telurnya ini kesannya seperti  sayang banget ya dengan anaknya. Tapi jangan salah, komodo yang sudah menetas bisa langsung dimakan oleh betinanya lo. Untuk itulah si anak komodo harus langsung bisa naik ke pohon untuk menyelamatkan diri.

Pulau Rinca ini saat rombongan berkunjung memang sedang berbenah di sana sini. Berbagai pembangunan fasilitas di kiri kanan areal tracking sedang dilakukan. Hal ini memang sangat perlu dilakukan mengingat komodo adalah warisan dunia dan satu-satunya keluarga dinasaurus yang masih tersisa (betul begitu kan ya). Jadi kawasan ini harus dijaga dengan sangat baik. Pemerintah Daerah juga harus betul-betul berusaha mengemas kawasan ini menjadi destinasi pariwisata kelas dunia. Walaupun memang geografi yang kemungkinan akan membuat kesulitan di dalam pembangunan infrastruktur mengingat untuk menuju pulau ini harus melewati laut. Infrastruktur seperti listrik, jaringan seluler dan internet sepertinya harus segera direncanakan lebih baik lagi sehingga kawasan ini bisa menjadi lebih keren lagi dan mendatangkan banyak pengunjung. Pengetahuan ranger juga harus selalu diupdate sehingga dapat menjawab keingintahuan pengunjung tentang komodo.

Maju terus pariwisata Indonesia #IndahnyaIndonesia #IndonesiaTanahAirBeta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *